BUDAYA LITERASI DAN JURNALISME SUPERMARKET (Studi Kasus Harian Pagi Jawa Pos, Surabaya)

Dhimam Abror

Abstract


Harian Pagi Jawa Pos adalah salah satu media konglomerasi terbesar di Indonesia dari Jawa Timur dengan oplah 350.000 eksemplar. Koran ini dikenal dengan gaya jurnalisme yang khas, dengan tampilan penuh warna, foto-foto besar mencolok, grafis desain yang menarik, serta rubrikasi yang sangat bervariasi. Jawa Pos juga mempunyai gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami yang bisa menjangkau semua kalangan pembaca, dari kelas paling bawah sampai kalangan menengas ke atas. Konsep jurnalisme ini disebut sebagai ‘’Jurnalisme Supermarket’’, yaitu jurnalisme yang bisa melayani semua kalangan pembaca. Dengan konsep ini Jawa Pos bisa meraih pembaca tertinggi di Jawa Timur mengalahkan koran-koran nasional termasuk Kompas. Capaian ini didapat di tengah kondisi budaya membaca (literasi) masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Studi UNESCO mengenai minat baca menunjukkan bahwa dari 61 negara Indonesia berada di posisi ke-60, hanya setingkat di atas Botswana di posisi jurukunci (Sudibyo, 2019). Penelitian ini akan mengungkap bagaimana di tengah kondisi budaya baca yang rendah Jawa Pos berhasil menerapkan strategi jurnalisme yang tepat sehingga bisa menjadi koran terbesar di Jawa Timur. Formulasi yang sama juga dipakai Jawa Pos untuk mengembangkan koran-koran anak usahanya di seluruh Indonesia, sehingga total oplah Jawa Pos Group mengungguli kelompok Kompas-Gramedia. Studi ini memakai metodologi kualitatif-diskriptif  (Mulyana, 2009, Moleong, 2012, Creswell, 2001) dengan pendekatan studi kasus (Yin, 2001, Alwasilah, 2014). Wawancara mendalam (indepth interview) dan FGD (Focus Group Discussion) dipakai untuk pengumpulan dan pengayaan data. Untuk menelusuri budaya baca dan hubungannya dengan media, studi ini menerapkan Teori Understanding Media dari McLuhan (1964) dan Teori Mediamorphosis Roger Fiddler (1987). Untuk mengupas Jurnalisme Supermarket studi ini menerapkan Teori Komunikasi Massa McQuail (2011), dan Teori Media Hallin dan Mancini (2004). Hasil studi menunjukkan bahwa formula Jurnalisme Supermarket berhasil menarik pembaca dalam jumlah besar di tengah kondisi rendahnya minat baca masyarakat.

Kata Kunci: Jurnalisme Supermarket, Jawa Pos, Minat Baca, Budaya Literasi


References


Abramson, Jill, ‘’Merchants of Trurh; The Business of News and the Fight for Facts’’, Simon and Schuster, London, 2019

Bagdikian, Ben, ‘’The Media Monopoly’’, Bacon Press, London, 1990

Castells, M, ‘’The Rise of the Network Society’’, Willy and Blackwell, London, 2010

Chomsky, N, Herman, ‘’Manufacturing Consent; The Political Economy of the Mass Media’’, Pantheon Books,New York, 2001

Eriyanto, ‘’Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media’’, LKIS, Yogyakarta, 2001

Gans, H, ‘’Democracy and the News’’, Oxford Press, New York, 2003

Ishadi, SK, ‘’Media dan Kuasa’’, Gramedia Pustaka, Jakarta, 2014

McQuail, D, ‘’Teori Komunikasi Massa’’, Salemba Humanika, Jakarta, 2011

McNair, B, ‘’Journalism and Democracy; Evaluation of Public Sphere’’, Routledge, London, 2000

McChesney, R, ‘’Rich Media Poor Democracy’’, London’’, The New Press, 2000

Moleong, LJ, ‘’Metodologi Penelitian Kualitatif’’, Bandung, Rosdakarya, 2003

Mosco, V, ‘’Politic Economy of Media, London’’, Sage Publication, 2009

Mulyana, D, ‘’Metodologi Penelitian Kualitatif’’, Rosda, Bandung, 2013

Murdock, G, dan Golding, J, ‘’The Political Economy of Media’’, Bloomsbury, London, 2001

Nasrullah, R, ‘’Media Sosial; Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi’’, Simbiosa Media, Bandung, 2015

Oetama, J, ‘’Pers Indonesia: Berkomunikasi pada Masyarakat Tidak Tulus’’, Gramedia, Jakarta, 2004

Sudibyo, A, ‘’Jagat Digital; Pembebasan dan Penguasaan’’, Gramedia, Jakarta, 2019

Sugihartati, R, ‘’Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer’’, Kencana, Jakarta, 2014




DOI: https://doi.org/10.52447/promedia.v6i1.4080

Refbacks

  • There are currently no refbacks.