Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) Antibiotik Pasien Rawat Inap Di RS X

Asriyani Samiun, Luthfy Asq Aulia, Ryan Arif Setiawan, Sri Wahyuni Abdullah

Abstract


Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik disebut juga sebagai obat yang digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri. Konsekuensi yang tidak terhindari dari meluasnya penggunaan antibiotik yaitu munculnya resistensi terhadap antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat kebanyakan terjadi di Negara berkembang. Untuk itu diperlukan evaluasi penggunaan obat dengan metode ATC/DDD untuk memilih penggunaan antibiotik yang tepat agar tidak terjadi resistensi mikroba dikemudian hari dan dengan metode Gyssens. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan data secara retrospektif dengan melalui penelusuran informasi data rekam medik pasien rawat inap RS X selama periode Maret 2022. Hasil dan kesimpulan menunjukkan bahwa terdapat 19 jenis antibiotik yang digunakan pasien rawat inap dengan total nilai DDD/100 patient-days sebesar 113,63. Antibiotik dengan nilai DDD/100 patient-days terbesar adalah Ceftriaxone yaitu sebesar 47,18 dan nilai yang terkecil adalah Cefoperazone Sulbactam yaitu sebesar 0,02. Pola konsumsi antibiotik yang terbanyak adalah golongan Sefalosporin, sedangkan pola konsumsi antibiotik yang paling sedikit adalah golongan Lincosamide. Evaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif berdasarkan metode Gyssens terbagi dalam IV-0 kategori. Diperoleh terdapat 228 peresepan antibiotik yang tergolong kategori 0 (peresepan antibiotik tepat).

Keywords


Evaluasi; Penggunaan; Antibiotik

References


Hadi, U., H. Van Asten, M. Keuter, dan P. Van Den Broek. 2008. Antibiotic usage and antimicrobial resistance in indonesia. Tropical Medicine & International Health. 13:888–899.

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotika Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Nugroho, A. E. 2013. Farmakologi: Obat-obat Penting dalam Pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Putri Dwi Lestari, Esti Dyah Utami, dan Masita Wulandari Suryoputri. 2018. Evaluasi Penggunaan Antibiotik di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Purwokerto: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman.

Setiabudy, R. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sri Sulastri Katarida, Dewi Nursiati, dan Yusticia Katar. 2014. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Secara Kualitatif di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Tripathi, K. 2007. Essentials of Medical Pharmacology. Edisi 6. New Delhi: Jaypee Brothers Medical.

World Health Organization. (2016). WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology. Norway: World Health Organization.

World Health Organization. (2017). Guidelines For ATC Classification and DDD Assigment. Norway: World Health Organization.

World Health Organization. (2020). Guidelines for ATC Classification and DDD Assignment 2020. Norway: World Health Organization.




DOI: https://doi.org/10.52447/scpij.v7i2.6227

Refbacks

  • There are currently no refbacks.