MODAL SOSIAL KAJIAN TENTANG TATA KELOLA PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA MELALUI GEMOHING DI KECAMATAN WITIHAMA - KABUPATEN FLORES TIMUR

Frans Bapa Tokan

Abstract


ABSTRACT

The phenomenon of the collapse of social capital, such as the tradition of mutual cooperation and self-sufficient or by the villagers in the district called Gemohing Witihama increasingly felt in the social life of the village, amid strong grip of modernization and globalization. Social capital as collective power of rural communities that have long been rooted in people's lives, is actually the ancestral cultural heritage in managing the important pillars of social cohesion and community development should be a castle guard of civilization. Therefore the main issue to be examined is how the tradition of gemohing highlighted from the perspective of social capital in support of rural development. This study is expected to more comprehensively describe the key role assumed by gemohing as social capital in supporting the process of rural development. The study results demonstrate that social capital has been the collective strength of the governance of rural development increasingly shifted due to the presence of new social institutions formed by the State and a number of policies that it has ignored the main role of gemohing. Despite this collective power that can still be presented again given the still dominant cultural traditions and kinship ties are still inherent in social life, especially in the face of socio-cultural events as well as cooperation for the benefit of rural development. Thus concluded that gemohing can still be used as the basis of social energy boosters that are beneficial for development and also an antidote to the negative effects of globalization. Hence a number of important aspects of gemohing as social capital such as trust, social networks and collective action remains a core strength togetherness strengthen and reinforce cooperation in order to garner a solid face various problems and challenges of rural development. That means gemohing must be preserved and treated as an integrating force for the development of society in all its aspects. And therefore should be given a proper place by the village government in all dimensions of development.

Keywors: Social Capital , Gemohing and Rural Community Development

ABSTRAK

Fenomena runtuhnya modal sosial masyarakat, seperti tradisi bergotong royong dan berswadaya atau oleh masyarakat desa di Kecamatan Witihama disebut Gemohing kian terasa dalam kehidupan sosial desa, di tengah kuatnya cengkraman modernisasi dan globalisasi. Modal sosial sebagai kekuatan kolektif masyarakat desa yang telah lama berakar dalam kehidupan masyarakat, sejatinya merupakan warisan budaya leluhur  dalam mengelola kohesi sosial dan pilar penting pembangunan masyarakat yang mestinya menjadi  benteng penjaga peradaban. Karena itu persoalan utama yang hendak dikaji adalah bagaimanakah tradisi gemohing disorot dari sudut pandang modal sosial  dalam mendukung pembangunan masyarakat desa. Kajian ini diharapkan  mendeskripsikan secara lebih komprehensif peran kunci yang diemban oleh gemohing sebagai modal sosial dalam mendukung proses pembangunan  masyarakat desa. Hasil kajian membuktikan bahwa modal sosial yang selama ini menjadi kekuatan kolektif bagi tata kelola pembangunan masyarakat desa kian mengalami pergeseran akibat hadirnya lembaga-lembaga sosial baru bentukan Negara dan sejumlah kebijakannya  yang justru telah mengabaikan peran utama dari gemohing. Meskipun demikian kekuatan kolektif itu masih dapat dihadirkan kembali mengingat masih dominannya tradisi kultural dan ikatan kekerabatan yang masih melekat dalam kehidupan sosial terutama dalam menghadapi peristiwa sosial budaya maupun kerjasama untuk kepentingan pembangunan  masyarakat desa. Dengan demikian disimpulkan bahwa gemohing masih dapat dijadikan sebagai basis   penguat energi sosial masyarakat yang bermanfaat bagi pembangunan  dan sekaligus  penangkal ekses negatif dari globalisasi. Karena itu sejumlah aspek penting dari gemohing sebagai modal sosial seperti kepercayaan, jaringan sosial dan tindakan kolektif masih tetap menjadi kekuatan inti mempererat dan memperteguh kebersamaan guna menggalang kerjasama yang solid menghadapi berbagai problem dan tantangan pembangunan  desa. Itu berarti gemohing harus dijaga dan dirawat sebagai kekuatan pengintegrasi masyarakat untuk pembangunan di segala aspeknya. Dan karena itu harus diberi tempat semestinya oleh pemerintah desa dalam seluruh dimensi pembangunan.

 

Kata-kata Kunci :  Modal Sosial, Gemohing dan Pembangunan Masyarakat Desa


Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Fukuyama, Francis, The Great Disruption : Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial, Edisi terjemahan, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2002

______________ Trust, The Social Virtues and the Creation of Prosperity, New York, The Free Press, 1995.

Giddens, Anthony, Jalan ketiga demokrasi sosial, terjemahan Ketut Arya, Gramedia, Jakarta, 1999.

Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif, UMM Press, Malang, 2004

Lubis Zuljifli, Repong Damar , kajian tentang Proses Pengambian Keputusan dalam Pengelolaan Lahan Hutan di daerah Pesisir Krui Lampung Barat, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Tahun 1996.

----------------------- Kajian tentang Pengelolaan Lubuk Larangan di Sumatera Utara : dimuat dalam Jurnal Dinamika Masyarakat, 2002..

Moleong, Lexy J, Metode penelitian kualitatif, Remaja, Jakarta, 1997

Pretty, Jules and Hugh Ward, Social Capital and the Environment paper submitted to World Bank, 1999.

Putnam, Robert D, Making Democracy Work, Civic Traditions in Modern Italy, Priceton, 1993

Soetomo, Strategi-strategi pembangunan masyarakat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008

Singarimbun, Masri, ed, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta,1995

Suseno, Franz Magnis, Pemikiran karl Marx, dari sosialisme utopis ke perselisishan Revisionisme, Gramedia, Jakarta, 2001




DOI: https://doi.org/10.52447/gov.v1i2.282

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright Pusat Penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta


Pengunjung